Kemiskinan dapat
dilihat dari dua sisi yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan
relatif. Kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif adalah konsep
kemiskinan yang mengacu pada kepemilikan materi dikaitkan dengan standar
kelayakan hidup seseorang atau kekeluarga.
Perbedaannya adalah bahwa pada kemiskinan absolut ukurannya sudah
terlebih dahulu ditentukan dengan angka-angka nyata (garis kemiskinan) dan atau
indikator atau kriteria yang digunakan, sementara pada kemiskinan relatif
kategori kemiskinan ditentukan berdasarkan perbandingan relatif tingkat
kesejahteraan antar penduduk.
1) Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut atau mutlak berkaitan
dengan standar hidup minimum suatu masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk
garis kemiskinan (poverty line) yang sifatnya tetap tanpa dipengaruhi
oleh keadaan ekonomi suatu masyarakat.
2) Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif pada dasarnya menunjuk pada
perbedaan relatif tingkat kesejahteraan antar kelompok masyarakat.
2. PENGERTIAN
KEMISKINAN
Kemiskinan adalah keadaan dimana
terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian,
tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahaman utamanya mencakup:
1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan
pangan sehari-hari: sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
2.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makan
"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik
dan ekonomi di seluruh dunia.
3.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat.
B. GARIS KEMISKINAN
Konsep Definisi
Garis Kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah
minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang
setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan
makanan.
Rumusan
GK = GKM + GKNM
Ket : GK
= Garis Kemiskinan
GKM
= Garis Kemiskinan Makanan
GKNM = Garis Kemiskinan Non
Makanan
Kegunaan
Untuk
mengukur beberapa indikator kemiskinan, seperti jumlah dan persentase penduduk
miskin (headcount index-Po), indeks kedalaman kemiskinan (poverty gap
index-P1), dan indeks keparahan kemiskinan (poverty severity index-P2)
Keterangan Tambahan
Selain
dari Susenas Modul Konsumsi dan Kor, variabel lain untuk menyusun indikator
kemiskinan diperoleh dari Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar (SPKKD).
Interpretasi
Garis kemiskinan menunjukkan jumlah rupiah minimum yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan
2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.
Penyebab
Kemiskinan :
1.
Penyebab
individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari
si miskin.
2.
Penyebab
keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
3.
Penyebab
sub-budaya (subcultural), yang
menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau
dijalankan dalam lingkungan sekitar.
Dampak Kemiskinan :
- Berkurangnya rasa nasionalisme, dikarenakan terlalu memikirkan kebutuhan utuk bertahan hidup.
- Tindak kejahatan tersebar dimana-mana, dikarenakan sudah terlalu terdesak dengan kebutuhan tanpa dibekali iman dalam agama sehingga segala cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
- Harga diri suatu Negara yang jatuh dimata dunia dan dianggap sumber dayanya tidak memiliki potensi untuk maju dan hanya mengandalkan bantuan saja.
- Menumbuhkan generasi muda yang tidak mengindahkan budaya ketimur.
- Hilangnya rasa gotong royong dan saling membantu dikarenakan tingkat sifat individualisme yang tinggi.
Pertumbuhan,
Kesenjangan dan Kemiskinan.
Data 1970 – 1980
menunjukkan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat
kesenjangan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan
PDB/pendapatan perkapita, semakin besar perbedaan sikaya dengan simiskin.
Penelitian di Asia
Tenggara oleh Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an dan
1980an ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi sejak awal
1990an ketimpangan meningkat kembali di LDC’s
dan DC’s seperti Indonesia, Thaliland, Inggris dan Swedia.
Beberapa
Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan
1. Indikator Kesenjangan
Ada sejumlah cara untuk
mrngukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi ke dalam
dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance. Yang sering
digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga
alat ukur, yaitu the generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan koefisien
gini.
2. Indikator Kemiskinan
Untuk mengukur
kemiskinan terdapat 3 indikator yang diperkenalkan oleh Foster dkk (1984) yang
sering digunakan dalam banyak studi empiris. Pertama, the incidence of proverty
yang diukur dengan presentase dari
populasi yang hidup di dalam keluarga dengan pengeluaran konsumsi perkapita
dibawah garis kemiskinan. Kedua, the dept of proverty yang diukur dengan indeks
jarak kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan proverty gap index. Ketiga,
the severity of property yang diukur dengan indeks keparahan kemiskinan (IKK)
Kemiskinan
di Indonesia
Setelah
indonesia dilanda krisis multidimensional yang memuncak pada periode 1997-1999
dan setelah dalam kurun waktu 1976-1996 tingkat kemiskinan menurun secara
spektakuler dari 40,1% menjadi 11,3%, jumlah orang miskin meningkat kembali
dengan tajam, terutama selama krisis ekonomi.
Karakteristik
Kemiskinan :
1.
Mayoritas rumah tangga miskin
menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.
2.
Mayoritas rumah tangga miskin adalah
petani gurem/subsisten
3.
Disparitas tingkat kemiskinan yang
tinggi antara kota dan desa
4.
Disparitas tingkat kemiskinan yang sangat tinggi antar provinsi
5.
Dominasi belanja belanja makanan
terhadap garis kemiskinan
6.
Berkumpul di sekitar garis kemiskinan.
7.
Kemiskinan bersifat multidimensi
Faktor – faktor Kemiskinan :
1. Pengangguran .
2. Tingkat pendidikan yang rendah.
3. Bencana Alam
Kebijakan Anti Kemiskinan :
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan
suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam
arti cost effectiveness-nya tinggi.
Ada tiga
pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
1. pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
2. Pemerintahan yang baik (good governance)
3. Pembangunan sosial
Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi
pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut
waktu yaitu :
1. Intervensi
jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan
2. Intervensi
jangka menengah dan panjang
3. Pembangunan sektor swasta
4. Kerjasama regional
5. APBN dan administrasi
6. Desentralisasi
Program Pemerintah Untuk Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia :
A. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat
B. Program Bantuan Operasional Sekolah
(BOS)
C. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin
mempunyai arti penting karena 3 alasan pokok:
1. Menjamin
terpenuhinya keadilan sosial bagi masyarakat miskin, sehingga pelayanan
kesehatan bagi masyarakat miskin mutlak mengingat kematian bayi dan kematian
balita 3 kali dan 5 kali lebih tinggi dibanding pada keluarga tidak miskin.
2. Untuk
kepentingan politis nasional yakni menjaga keutuhan integrasi bangsa dengan
meningkatkan upaya pembangunan (termasuk kesehatan) di daerah miskin
3. Hasil
studi menunjukan bahwa kesehatan penduduk yang baik, pertumbuhan ekonomi akan
baik pula dengan demikian upaya mengatasi kemiskinan akan lebih berhasil.
Pelayanan kesehatan peduli penduduk miskin meliputi
upaya-upaya sebagai berikut:
1. Membebaskan
biaya kesehatan dan mengutamakan masalah-masalah kesehatan yang banyak diderita
masyarakat miskin
2. Mengutamakan penanggulangan
penyakit penduduk tidak mampu.
Referensi :